Musuh Bebuyutan Rezeki

 

Anda amati pola kerezekian Anda, polanya selalu “duit habis ada lagi”. Kenapa selalu “ada lagi” setelah “habis?” Sebab itulah karakter jaminan pada rezeki.

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan rezekinya dijamin Allah.” (Q.S. Hud : 6)

Saya pernah menjelasjan, anak Anda untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah pertama sudah dijamin negara biayanya melalui program BOS (kecuali seperti kedua anak Saya yg mondok walaupun masih SD biaya sekolahnya bersaing dengan biaya S2 Ibunya hehe), tetapi Anda masih terus saja ketar-ketir tidak mampu menyekolahkan anak. Yang demikian apakah mental Anda waras?

Sebab karakter jaminan rezeki, maka tantangan Anda untuk rezeki adalah rasa khawatir. Makin Anda waras, maka level khawatir Anda pada rezeki makin berkurang.

Level melepas rasa khawatir ini terikat dengan level melekat Anda pada rezeki. Artinya jika esok hari Anda tidak punya apa-apa, tetapi hati Anda tenang-tenang saja, ketenangan itu juga akan terjadi pada saat Anda kena musibah rezeki, kena boros, dan lain sebagainya.

Sekali lagi karena sistem keterjaminan rezeki, maka tantangan Anda justru rasa khawatir.

Berbeda dengan karakter diri. Karakter pada diri Anda, apakah karakter Anda mau makin buruk atau makin baik, itu tidak ada jaminan. Maka ini untuk karakter diri, Anda justru perlu memasang rasa khawatir. Apakah diri Anda sebagai pejabat negara, sudah melayani rakyat dengan baik? Apakah Anda sebagai karyawan, sudah bekerja yang terbaik? Dan seterusnya. Pada karakter Anda perlu khawatir karena tidak adanya sistem jaminan.

Apakah setiap Anda melukai orang lain ada jaminan dari Tuhan kalau Anda akan merasa bersalah dan menyesal, lalu Anda meminta maaf? Tidak ada jaminannya. Berbeda dengan rezeki, polanya selalu “jika habis, datang lagi”.

Beberapa waktu lalu saya ditelepon salah satu teman di Jakarta. Dia menceritakan keadaan finansial 2 keluarga kakak-kakaknya.

Kakak pertamanya punya aset dan pengasilan lebih banyak dari kakak keduanya. Kakak pertama dan keduanya sama-sama tinggal di kampung halaman, Bukittinggi.

Kakak pertama punya rumah dan sawah di kampung. Suami seorang guru PNS sementara istri seorang karyawan swasta di sebuah swalayan. Anak cuma tiga.

Sejak awal, suami-istri tersebut sangat perhitungan pada rezeki, segala aspek rezeki dicari-cari celah efisiennya, sampai-sampai Supermi oleh-oleh hajatan saja disimpan-simpan biar ketika ada keperluan bertamu sudah punya bawaan oleh-oleh, tidak perlu lagi belanja. Tentu di sisi keuangan, efesiensinya lebih ketat lagi.

Si istri rasa khawatirnya pada uang juga sangat kuat. Sedemikian rupa keuangan diolah, hingga menu makan sehari-hari selalu seadanya. Makan enak di luar rumah paling banter bakso.

Hasilnya, sekalipun penghasilan tinggi, aset harta punya, tetapi keluarga ini hidup serba pas-pasan. Makan enak tidak pernah, di rumahnya seolah tidak pernah dihampiri makanan mewah, serba pas-pasan dan seadanya.

Malahan sesudah anak-anak mereka masuk pendidikan menangah atas, keluarga ini makin tampak kemerungsungnya pada rezeki. Sahabat saya konsultasi ini pada saya karena dia heran, saking kemerungsungnya pada duit, kakaknya yang satu ini sudah berkali-kali minta hutangan padanya.

Rumah kakak pertamanya ini pun makin rapuh tapi tidak bisa memperbaiki. Yang padahal jika dihitung logika dia punya sawah, punya kebun, punya gaji tetap, jika dikalkulasi seharusnya bisa memperbaiki rumahnya yang mulai rapuh.

Apalagi terlihat sedekah untuk memakmurkan orang lain, untuk memakmurkan dirinya sendiri saja tampak selalu pas-pasan, bahkan sering kurang.

Berbeda sekali dengan kakak keduanya. Dia juga punya 3 anak. Kakak keduanya, dari sisi aset harta terpaut jauh dari kakak pertamanya. Kakak keduanya tidak punya aset sawah. Aset yang dia miliki hanya tanah yang didirikan rumah, dan itu masih kredit. Sumber penghasilan hanya dari suami yang menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan kontraktor, dengan gaji di bawah 5 juta perbulan. Sementara istri hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Namun aneh, rezekinya benar-benar bisa dinikmati. Fasilitas rumah tangga.

bisa mereka miliki lengkap. Bangunan rumah lebih layak dari  kakak pertamanya. Makan enak dan rekreasi juga tercukupi. Masakan sehari-hari juga selalu makmur, apa-apa tercukupi. Tidak terlihat memprihatinkan seperti kakak pertamanya.

Diamati, kakak keduanya lebih mampu happy pada rezeki. Rezeki yang ada benar-benar dia nikmati. Dia tidak hitung-hitungan dalam mengelola keluar-masuk rezeki, tingkat melekatnya pada rezeki tipis, ingin belanja dia belanja, ingin jajan dia jajan, bahkan dia sangat menonjol sedekahnya. Itu pertanda mentalnya tidak banyak khawatir pada rezeki.

Jadi begitulah karakter rezeki sebagai jaminan, sehingga musuh rezeki adalah rasa khawatir.

Rezeki makmur itu tidak terhubung dengan aset yang dimiliki, tidak terhubung dengan nominal penghasilan, tidak terhubung dengan kecerdasan bisnis, tetapi terhubung dengan mental spiritual Anda. Pada kasus kedua kakak sahabat saya di atas adalah contohnya, bahwa kemakmuran rezeki itu semata-mata mental spiritual, mental yang memahami keterjaminan rezeki.

Aset harta, pekerjaan, penghasilan, bisnis, dan lain-lain, adalah rezeki dari-Nya, untuk menumbuhkan rezeki-Nya musuh bebuyutannya adalah rasa khawatir Anda. [GI]

Gema Indra

Posted by Gema Indra

Facebook | Twitter