Cerita Pendek: Hujan

 

Rudi meninggalkan kantor jam 19.15 setelah menyelesaikan pekerjaan rekannya yang absen karena sakit. Langit mendung dan angin bertiup cukup kencang, membuatnya menyesal tidak membawa baju hangat. Dia membawa payung yang cukup untuk satu orang, duduk di halte bis di sebelah wanita hamil; antara dia dan wanita itu sama-sama tahu mereka bekerja di gedung yang sama. Wanita itu berharap Rudi dapat menemaninya hingga dia mendapatkan taksi. Rudi meninggalkannya sendirian setelah mendapatkan bis yang tidak terlalu penuh.

Dia duduk di samping jendela, membuka kaca jendela lebar-lebar, sedikit mengeluarkan kepalanya untuk melihat hal-hal yang sama setiap harinya. Jalanan ini telah menjadi bagian hidupnya selama delapan tahun. Sering dia bertanya apakah dia akan masih di jalan yang sama tahun depan? Dia masih ingat apa yang dipikirkannya dalam perjalanan pulang kemarin; tentang pekerjaannya, keluhan teman-teman kantornya, rencana akhir pekan, rencana cuti, masa lalunya, dan … hujan pun turun.

Dia bisa tidur tenang seandainya air tidak masuk melalui celah jendela. Dia berusaha menutup jendela, tapi ada sesuatu yang mengganjal sehingga tidak bisa menutup penuh. Untungnya ini akhir pekan, jadi tidak mengapa dia terpaksa sedikit basah. Penumpang pria di sebelahnya tersenyum menaruh simpati, tapi simpati tidak mengubah keadaan.

Dia turun di gerbang tol Jati Bening dan akan melanjutkan perjalanan dengan bis lain. Anak-anak kecil bergantian menawarkan ojek payung. Dia mengangkat tangan dan menunjukkan payungnya pada mereka, dan setelah itu dia bergegas ke tepi jalan dan berbagi payung kecilnya dengan seorang lelaki tua.

“Pulang ke mana?” tanya Rudi.

“Purwakarta,” jawab lelaki tua itu.

Lelaki tua itu seorang pesuruh di sebuah bank di Jakarta dan terbiasa pulang pergi di hari kerja. Capek bukan masalah, lelah sudah jadi bagian hidupnya karena keluargalah yang utama, demikianlah dia berkata pada Rudi. Rudi berpikir, seharusnya dia bisa lebih bersyukur. Tidak berapa lama lelaki tua itu mendapatkan bis-nya.

Malam semakin larut, orang-orang datang dan pergi, sementara Rudi masih menanti bisnya.

* *

Menjelang pukul 20.30 tempat itu semakin sepi. Dua orang di sebelah Rudi sudah mendapatkan bisnya, sementara Rudi menunggu dengan gelisah. Bis nomor 52 yang baru datang hanya menurunkan seorang perempuan yang berlari tanpa payung. Sekilas Rudi mengenali wajahnya, tapi perempuan itu yang lebih dulu menyapanya.

“Ya ampun Rudi,” kata perempuan itu kegirangan. “Masih tinggal di Bekasi?”

“Sekarang di Kranji,” jawab Rudi, mengenal perempuan itu sebagai Sari, teman SMA-nya.

“Aku di Wisma Asri,” kata Sari. “Kita satu jurusan dong.”

Hujan turun semakin deras, uap embun menutupi kaca bis. Tiba-tiba tetesan air jatuh dari atap dan jatuh lengan Rudi. Bagaimana bisa mendapatkan dua bis bocor dalam satu perjalanan? Rudi bergeser sedikit tanpa bermaksud merapat ke tubuh Sari. Lengan mereka saling bersentuhan, Rudi bisa merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.

Lima belas menit kemudian mereka sudah tiba di pintu keluar Tol Bekasi Barat. Tangan Sari bergelayut di bahu Rudi saat melewati genangan air atau menghindari kendaraan yang datang dari arah belakang. Tapi Rudi kurang beruntung saat sebuah sedan mencipratkan air dan lumpur ke wajahnya.

Staff only,” kata Rudi.

Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian ini dialami oleh keduanya dengan siapapun. Mereka saling mendekatkan diri, memegang payung bersama seiring arah angin dan hujan yang datang tak beraturan. Sari memuji kebaikan dan kesederhanaan Rudi, sementara Rudi memuji kecantikan Sari – masing-masing mengatakannya dalam hati.

Tuhan menurunkan hujan untuk maksud-maksud tertentu yang terkadang tidak dimengerti manusia. Dan untuk segala maksud yang dipahami seharusnya menjadikan manusia selalu bersyukur. Pertemuannya dengan Sari membuka kenangan Rudi sewaktu dia masih di SMA; dia pernah jatuh cinta padanya tapi tidak pernah menyatakan. Waktu itu semua anak lelaki mendambakan Sari untuk menjadi kekasihnya. Mereka datang dengan kelebihan masing-masing: ketampanan, kekayaan, atau kepintaran, sedangkan Rudi hanya orang biasa dan tidak diperhatikan. Sari masih mengingat Rudi sebagai anak lelaki yang meminjamkannya payung saat hujan deras di jam pulang sekolah, tidak lebih.

Dan sebagaimana pertemuan terjadi, perpisahan datang bukan atas keinginan mereka. Di pertigaan jalan Rudi mengucapkan selamat tinggal. Sari membalasnya dengan senyum yang akan selalu diingat Rudi.

Hujan semakin deras, Sari memilih berteduh di depan toko dan menghubungi sang suami untuk datang menjemput. Di tempat lain, Rudi menelusuri jalanan sepi dengan payung yang tertutup. Dia ingin merasakan air dingin jatuh ke wajahnya, sama seperti sepuluh tahun lalu ketika dia meminjamkan payung untuk perempuan itu dan membiarkan dirinya basah kuyup. Dia masih membayangkan pertemuan mereka barusan. Tentu saja Sari teramat cantik untuk seorang lelaki biasa seperti dirinya. Dia mempercepat langkahnya, bergegas untuk menuju seseorang yang sedang menunggu di rumah, seorang perempuan yang lebih dia cintai.

*  *  *

Ali Reza

Posted by Ali Reza

Tentang:
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Facebook | Twitter