Bercerai Dengan Kesempitan

 

Segala hal jika sempit pasti menyesakkan dan menyusahkan.

Biar seger, kita flashback dulu cerita tentang Roberto Esquivel Cabrera (54) seorang pria pemilik alat vital terbesar di dunia, memiliki organ intim dengan ukuran 18,9 inci, jangan dibayangin 🤔😂.

Ia memecahkan rekor sebelumnya yang dimiliki oleh aktor Amerika Jonah Falcon, yang ukuran organ intimnya mencapai 9,5 inci lembek, dan 13,5 inci saat ereksi, maaf kalo awal ceritanya jadi vulgar gini 😊.

Tapi, kenyataan apa yang diterima oleh Roberto? Dia tidak pernah menikah karena semua alat vital wanita terasa sempit baginya. Dan otomatis semua wanita yang dilamarnya memilih kabur karena tidak ingin mati sia-sia saat di atas ranjang bersama Roberto. Semua alat vital wanita menjadi sempit bagi Roberto yang jadikan hidup Roberto ruwet sendiri.

Alat vital Roberto hanya gambaran saja bahwa yang sempit itu yang meruwetkan.

“Dunia tidak selebar celana kolor ups maaf daun Kelor,” ini dimensi yang benar, namun “selebar daun Kelor” ataupun “tidak selebar daun Kelor” itu hanya bentuk kesadaran Anda.

Saya pernah menuliskan, saya pedagang, mengelola usaha. Makin hari pesaing makin banyak, Usaha-usaha serupa bahkan yang lebih lengkap dari saya muncul bertebaran, tetapi saya menilai pesaing sebagai keberuntungan besar.

Ketika pesaing dagang Anda banyak, itu artinya rejeki makin banyak, sebab permintaan konsumen juga makin banyak. Dengan menyadari ini, saya tidak pernah susah hati.

Malahan saya berbahagia ketika muncul pesaing. Bahkan kemarin ada tetangga saya membuka usaha baru, saya ajari dia ilmunya, sampai saya bantu belanja peralatan yang dibutuhkan.

Dan nyata, saya menyadari pesaing bukan sebagai macan pembunuh, tetapi sebagai jalan pemudah rezeki. Semua diawali dari pengaturan kesadaran kita.

Memberi nafkah pada keluarga ada yang menyetting kesadarannya sebagai pengeluaran, maka kemudian memberi pada anak dan istri diatur irit sedemikian rupa. Karena kesadarannya “mengeluarkan” maka atensinya menjadi rasa kurang, rasa fakir dengan rezeki. Rasa fakir adalah versus dari rasa syukur. Tidak syukur, jatah rezeki berkurang. Padahal kalau kesadarannya didasarkan pada rasa kaya, bahwa, “Saya kaya, saya cukup, saya berlimpah,” maka saya sanggup memberi banyak, bila begitu alam semesta mencatatnya sebagai rasa syukur. Rasa syukur tentu ditambah rezekinya.

Jadi catatannya, sempit dan luasnya urusan dunia Anda itu adalah bentuk kesadaran Anda, realitanya kehidupan ya begini ini.

Jelas yang mematikan diri Anda adalah kesadaran Anda sendiri. Kalau kesadaran Anda akan urusan dunia sempit, semuanya yang Anda temui jadi menyakitkan. Setelah menyakitkan hati Anda lalu lahirlah kisruh. Habis kisruh terbitlah hancur.

Orang-orang dengan kesadaran sempit terhadap urusan dunia, dia juga akan diberi penghidupan sempit, Al-Qur’an menyebutnya “ma’isyatan dhanka”.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha: 124)

Jadi kalau Anda ingin ruwet penghidupannya, bercerai dari rezeki harmoni, sempitkan kesadaran Anda. Penyempitan kesadaran pada urusan dunia tandanya ada rasa ketersinggungan pada urusan dunia.

Contoh tersinggung urusan rezeki, punya bisnis tapi sibuk banting harga untuk menarik pelanggan banyak agar pembisnis di sebelah KO. Terjun di politik bukan berkonsentrasi perbaiki kinerja, tapi sibuk cari celah serang lawan politik. Agak enek pada istri langsung bentak-bentak. Agak boros dengan uang, khawatirnya menggerogoti hati. Antri BBM di SPBU dengan rasa gusar, sepertinya menjadi orang tersibuk di dunia sehingga Mobil/motornya harus harus disegerakan pengisiannya. Pesawat delay, langsung hatinya menggerutu.

Dilosin aja, atau melepas perasaan saat dapatkan ketidaknyamanan perasaan itulah jalan memperluas kesadaran. Sering-sering berperasaan, “Ya sudahlah,” saat menghadapi ketidaknyamanan hati itulah jalan untuk bercerai dari “ma’isyatan dhanka” atau “penghidupan sempit”. Karena dalam urusan harta, bahasa langit tidak menggunakan kata Kaya atau miskin, tetapi memilih kata lapang atau sempit. [GI]

Gema Indra

Posted by Gema Indra

Facebook | Twitter